English
English
Vietnam

Persija Jakarta tengah menghadapi persoalan serius dalam perjalanan mereka di BRI Super League 2025/2026. Bukan dari segi kualitas permainan atau strategi, melainkan dari aspek kedisiplinan yang justru menjadi sorotan utama. Hingga memasuki pekan ke-26, tim berjuluk Macan Kemayoran tercatat sebagai salah satu tim dengan jumlah kartu merah terbanyak di kompetisi, yang menunjukkan adanya masalah mendasar dalam pengendalian emosi dan permainan di lapangan.
Kondisi ini tentu berdampak besar terhadap performa tim secara keseluruhan. Bermain dengan kekurangan pemain akibat kartu merah sering kali mengganggu keseimbangan tim, sehingga momentum pertandingan pun mudah berubah. Beberapa pemain bahkan sudah beberapa kali terlibat dalam pelanggaran yang berujung pada kartu merah, menunjukkan bahwa persoalan ini bukan hanya terjadi pada satu individu, melainkan menjadi masalah kolektif yang perlu segera ditangani secara serius oleh tim.
Dampak dari kurangnya disiplin tersebut juga terlihat jelas dalam hasil pertandingan. Dalam salah satu laga, Persija harus kehilangan pemain kunci dan akhirnya gagal mempertahankan keunggulan hingga harus menelan kekalahan. Selain itu, tingginya jumlah kartu kuning yang diterima pemain juga menjadi indikasi bahwa gaya bermain yang keras dan kurang terkontrol menjadi akar permasalahan yang belum terselesaikan hingga saat ini.
Dengan kondisi tersebut, posisi Persija dalam persaingan gelar pun ikut terpengaruh. Mereka kini tertahan di papan atas, namun tertinggal dari pesaing utama dalam perebutan gelar juara. Manajemen sebenarnya sudah memberikan peringatan, namun perubahan yang diharapkan belum terlihat secara signifikan. Jika masalah disiplin ini tidak segera diperbaiki, peluang Persija untuk meraih gelar juara musim ini bisa semakin menipis dan berujung pada kekecewaan di akhir kompetisi.